Menunduk melihat dedebu dikaki,
Mendongak memerhati pulau ditengah lautan,
Pasir itu bisa aku genggam,
Batu-batu kecil juga bisa aku lemparkan,
Dan hingga kesaat ini,
Kehadiran dia disisi masih dapat aku rasakan,
Indahnya dia, bila cinta itu mencintai, dan dicintai itu adalah cintanya dia.
Menarik nafas dalam,
Menghembus nafas kesesakkan,
Wahai masa hadapan,
Berikan aku kekuatan untuk melupakan semalam,
Wahai masa silam,
Berikan aku kesanggupan untuk melangkah suatu pembaharuan,
Kegagalan itu pernah aku rasa,
Kesilapan itu pernah aku lakukan,
Keperitan itu pernah aku hadapi,
Kelukaan itu pernah aku ubati,
Ternyata rasa itu telah lama mati,
Hilangnya dia, aku kuburkan semua,
Dan pabila rasa itu bangkit semula,
Pada detik jantung ini berdetak semula,
Kesempurnaan itu masih lagi tak bisa pun aku sentuh,
Buat berkali2 luka yang pernah aku rasai,
Untuk kali ini,
Aku tahu aku masih terluka,
Jika bahagianya mampu membahagiakan aku,
Luka ini? Sedikit cuma.
Perlahan aku menyusuri jalan indah disekelilingku,
Masih tega berjalan dengan seribu harapan,
Harapan yang masih tergantung tak tercapai tangan,
Akan ada satu hari dimana akanku lunaskan,
Berharap pada hujung jalan diseberang sana,
Maseh ada yang bisa membuatku tertawa,
5 tahun berlalu,
baru kini aku bisa mengubah rasa cintaku dari dia,
Bilamana jantung ini bernadi semula,
Untuk sekali lagi aku perlu melupakan,
Mungkin 5 tahun yang akan datang,
Sudah bisa dihitung dari sekarang,
Masa yang akan ku ambil untuk kembali kebah,
Dan aku bersedia untuk itu,
Doaku sehari-hari dalam sujudku,
Bahagianya mereka adalah bahagiaku.

No comments:
Post a Comment